Senin, 08 Agustus 2011

Tentang Rasaku

Malam makin gelap dengan rasaku diantara setiaku
yang bersembunyi di balik wajah terangmu,
aku semakin gelisah

Ku ingin terpejam sejenak dan merasakan sedikit
irama syahdu tentangmu
tentang rasa yang punah bersama indah
aku tak mengerti mengapa suaramu selalu datang
dan menjamah kesendirianku

Dalam kepasrahan kubiarkan kenangan memenuhi hatiku
kantung mataku yang semakin menghitam
tersimpan segala kesedihan

Bisikan terakhir yang tak pernah kudengar
kini telah kusia-siakan waktu
membuat aku merasa bodoh

Sungguh semu, sahabat sepi dalam mimpi
kupikir kau mampu membalut sedihku
malangnya kau pergi menjauh
bersembunyi di balik tangisku
langkahku pun terhenti di hatimu

Sahabat sepiku,
ada yang tak pernah berhenti mengejarku
ialah kenangan bersamamu
menjadi api yang tak pernah mati di tanganku
terlalu banyak andaiku tentang kenangan

Laknat benar aku,
mencintai kelembutan yang terlahir
dari kehangatanmu yang begitu sempurna

Rengekku memecah sendi-sendi
darah dari luka makin membanjiri kerinduan
dengan sedikit tangis untuk menepis
bahwa cintamu tak termiliki

Sahabat sepiku,
mungkinkah kau mengerti tentang rasa ini
yang sekarang menjadi jarak diantara kita?

Aku semakin terpuruk dalam kerinduan tanpa ampun
bahkan terbakar dengan rasa ini

Detik-detik berlalu,
aku selalu menangis di bahu kenangan
kau adalah bintang menumbuhkan cahaya
pantulan kerinduan tentang rasaku padamu

by Rina Apriani (Yank Celalu Resah)

Nelangsa


TAPI
kenapa sesekali aku masih inginkan
angin  bisikkan kabar tentangmu
setelah kau badaikan kisah
saat satu langkah dekatimu
menjauh aku putuskan

LUKA
begitu dalam belati kau torehkan
menyayat matahari
teteskan darah teramat dalam
di langit asaku

KISAH
cukup jauh kita merajut
membiarkan kuntum itu mekar
tanpa pernah kau siram
kaupun rela bila tumbuh di lain jambangan
inginmu merangkul

CINTA
jangan sesekali kita bicara
diam adalah jawaban semua tanya
mendekatlah, selalu inginmu begitu

RINDU
masih getarkan antara kita
di luar sadar pun sering sebutkan nama
di jendela itu, heningku pun merasa

AHH,
tidak mungkin membuka
lembaran lama
setelah semua catatan aku kubur
bersama luka

By Refdinal Muzan (Refdinal Kelana Mimpi)

Jangan Panggil Bapakmu

Genduk,
jangan lupa menanak nasi
meskipun hari ini cuma lauk terasi
tapi biyungmu akan tetap sekuat besi

Genduk anakku,
jangan menangis
juga jangan panggil Bapakmu
sudahi dulu
agar tak berat beban ini

Genduk buah hatiku,
sekembali biyungmu nanti
biyung kan datang dari lengkung pelangi
setelah hujan terhenti,
dengan sekarung padi
agar genduk bisa menanak lagi

Genduk semata wayang,
sambutlah biyungmu dengan senandung
tapi jangan panggil lagi Bapakmu
sebab ia sudah mati

Genduk sri bintang,
kerlipmu berlian, esok akan ada hari
merajut rindu untukmu berlari
menyambutmu untuk kau duduki
tapi jangan terkejut ketika ada suara menggema

“Jangan Panggil Bapakmu”

by Rahmat Ansyarif (Aan Berdarah)

Sebotol Whisky Jatidiri

Malam kian larut
resah semakin bergelayut
membayangkan dirimu
yang telah menggerogoti kalbuku

Seteguk whisky terasa nikmat
membasahi kerongkongan
menemani rasa dingin
sedingin hatiku malam ini

Aku sudah begitu lelah
aku ingin pulang
telah kureguk minuman
dan alkohol itu telah menguasai kepalaku

Kemanapun aku pergi
menyeberang padang dan lautan
kau kan selalu dengar
aku mendendangkan lagu ini

Sebotol whisky masih kupegang
tapi pikiran melayang tak karuan
pandangan pun berkunang-kunang
gubraaakk..!!
aku tak sadarkan diri

Secercah cahaya masuk lewat celah jendela
hari menjelang pagi
sebotol whisky masih menemani
tuk mengobati luka hati
demi jati diri, aku hampir mati

by Pidri Syaikhal (Senja Hati/Penyair “Mbelink”)

Gelisah Yang Terpasung


Gelisah,
hati yang anyir bernanah
teriris saat desah nafas itu menggema
dalam relung hati tumpah ruah bersama embun pagi
menggigit otak yang resah

Gelisah,
tawa yang renyah, suara yang manja,
tubuh yang bertelanjang keringat
peluh yang bertarung dengan cahaya pagi,
menyampah di otak kiriku

Gelisah,
senyum secuil itu,
mengintip di balik pematang hati
dengan resahmu, ku ingin merengkuhnya
namun hati ini terpasung noktah ikatan

Gelisah,
ku ingin lepas laksana burung terbang

by Nunuk Hariyati (Senja SagaYg Terpasung)

Rindu

Bersama kerinduan
yang tak pernah berlalu
kini kupusarakan diri
dalam kenangan abadi

Aku tiada,
puisiku pun hampa

Cinta,
selalu agung dalan jiwa

Dan jika kerinduan ini adalah pedangmu
maka tebaskanlah di leherku
kau akan saksikan bibirku tersenyum
meski mataku mengaca

by Nining Sujanawati (Ninkz Zknin Eno)

Gubug Cinta

tak ada gerbang pagar
hanya bilik berpintu sapa
berengselkan salam do’a

tak ada kursi
hanya ada batu sandaran beban
berlafazdkan sabar penumpu dzikir hati

tak ada permadani
hanya ada hamparan kumal
tumpuan alas kaki pijaki makna surgawi

tak ada hiasan
hanya ada pernik butir-butir syukur dan kilau zuhud
menempel di dinding ke-tawadhu’an

tak ada wewangian
hanya ada aroma ikhsan
dikelilingi semerbak bunga alam
mekarkan kasih suci

tak ada melodi
hanya desau angin
mengiringi lantunan ayat suci
berirama suara jangrik malam

tak ada penerang
hanya ada pelita qur’an
bersambut redup rembulan
disinari cahaya gemintang

tak ada gemerlap permata
hanya ada suntingan bunga-bunga impian
dari malaikat kecil nan ceria
menyambut mutiara impian asa

tak ada singgasana
hanya gubug sunyi
jauh dari keramaian duniawi

tak ada apa-apa
hanya gubug cinta yang kupunya

by Murni Turmiati (Sketsa Oase Senja)